RSS Subscription

Subscribe via RSS reader:
Subscribe via Email Address:
 

CINTA KEPADA ALLAH

Posted By Taufik Hidayat On 05.37 Under

Hendaklah anda mencintai Allah, hingga Allah SWT menjadi yang paling anda cintai daripada yang lain. Bahkan anda tidak mencintai sesuatupun, kecuali cinta kepada-Nya. Adapun sebab terjadinya rasa cinta terhadap sesuatu yang di cintai itu, adakalanya kerena adanya kesempurnaan yang mengagumkan atau kerena mendapat perhatian khusus dari yang dicintainya itu.

Jika kamu di antara orang yang mencintai sesuatu karena rasa kagum akan kesempurnaan, maka kesempurnaan dan keindahan serta ke-agungan itu semuanya hanyalah pada Allah Yang Maha Esa, yang tiada sekutu bagi-Nya.

Apa pun yang terbentang di setiap hamparan yang ada di dunia, adalah termasuk makna kesumpurnaan dan yang tanpak padanya dari keindahan-keindahan yang mempesona, maka hanya Allah SWT yang menyempurna dan yang memperindahnya. Bahkan hanya Allah SWT sajalah zat yang dapat mewujudkan dan mempesonakannya. Apabila Allah SWT tidak memberikan kenikmatan padanya dengan diwujudkannya tentu hal itu tidak akan pernah ada. Seandainya Allah SWT tidak mengistimewakan akan kejadiannya, tentu ia akan buruk lagi tercela.

Jika anda termasuk orang yang mencintai sesuatu karena adanya perhatian khusus darinya, maka tidaklah anda melihat kebaikan Allah, tidakkah anda menyaksikan karunia-Nya, tidakkah melihat kemuliaan dan kenikmatan-kenikmatan–Nya yang ada pada diri anda dan pada makhluk-makhluk lain ?

Dialah Allah yang memberikan karunia terhadap semua itu secara tulusnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyantun. Berapa banyak kenikmatan yang telah di karuniakan oleh Allah kepada anda ? Dia adalah Tuhan anda, Zat yang memberi makan, minum, yang mencukupi, membimbing, memberikan ketenangan dan pemukiman kepada anda.

Dialah Zat yang melihat kejelekan anda dan yang menutupinya, kepada-Nya anda memohon ampunanya atas dosa dosa anda, lalu Dia pun mengampuninya. Zat yang melihat kebaikan anda dan yang melipatgandakan serta memberikan balasan. Dengan petunjuk dan pertolongan-Nya anda mampu taat kepada-Nya. Dia, mencatat nama anda di alam gaib. Zat yang telah meletakkan rasa keharuan dan cinta di dalam hati anda, sekalipun berlaku durhaka terhadap nikmat-nikmat-Nya.

Dialah Tuhan, yang tidak akan menghalang-halangi untuk melimpah-ruahkan kebaikan karena banyaknya kedurhakaan. Maka, kenapa anda masih mencintai selain Zat Yang Pengasih ini ? Tuhan Yang Maha Mulia, dan kenapa anda tidak merasa malu kepada-Nya, sehingga anda tetap masih durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih ini.

Ketahuilah, sesungguhnya sumber rasa cinta sudah kenal (ma’rifat), sedangkan buahnya adalah saling menyiksakan (musyahadah). tingkat cinta yang paling rendah adalah rasa cinta kepada Allah SWT telah menguasai hati kita, hal itu dapat anda rasakan, ketika seseorng ada yang mengajak anda menjalankan apa yang dibenci oleh Allah, seperti melakukan maksiat atau untuk meninggalkan ketaatan.

Adapun tingkat cinta yang paling tinggi adalah bila di dalam hati anda sudah tidak ada rasa cinta kepada selain Allah, dan yang demikian ini, sangat langka. Paling langka lagi kedalaman cinta seperti itu, akan menumbuhkan sebuah kondisi kesantunan yang begitu intensi (lareut) dengan zat Allah, yakni padanya sudah tidak tersisa lagi rasa wujud aslinya, bahkan mukhal adanya.

Ketahuilah, bahwa rasa cinta Rasulullah SAW para Nabi, para malaikat, para hamba Allah yang saleh dan segala sesuatu yang membantu taat kepada Allah, semua termasuk adalah mencintai Allah.

Nabi SAW bersabda :

Artinya :
“Cintailah Allah, kerana dia yang memberikan makan kepada anda sekalian dengan kenikmatan-Nya, dan hendaklah anda cinta kepadaku, sebab mencintai Allah, dan hendaklah anda juga mencintai keluarga-Ku, sebab kecintaan kepadaku”
(HR. Tirmidzi Dan Hakim)


Rasulullah SAW bersabda dalam Hadist qudsi, bahwa Allah Ta’ala Berfirman :

Artinya:
“Kecintaan-Ku menjadi sebuah keharusan bagi orng-orang yang saling mencintai kerena aku, orang-orang yang duduk dan mencintaiku, orang-orng yang berzairah kerena aku, dan orang-orang yang mencurahkan tenaga kerena mencintai aku.”
(HR. Ahmad, Hakim Dan Thabrani).


Di antara tanda-tanda yang paling mendasar dari rasa cinta yang benar (kepada Allah). Adalah kesempurnaan untuk mengikuti Rasulullah SAW, baik mengenai ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan atau budi pekerti beliau.

Allah SWT berfirman :

Artinya :
“Katakanlah (Muhammad) : Jikalau kamu sekalian mencintai Allah, maka ikut aku, (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kamu sekalian….”(QS. Imran : 31)

Dengan demikian, seberapa besar kadar rasa cinta anda kepada Allah. Di tentukan oleh seberapa jauh anda mengikuti kakasih Allah (Nabi Muhammad SAW) hanya pada Allah tempat berserah diri terhadap apa yang kami katakan.

Hendaklah anda ridha terhadap qadha Allah. Kerena rela terhadap qadha’ Allah buah cinta dan mak’rifat. Dan di antara sikap orang yang cinta itu, adalah rela terhadap apa yang dilakukan oleh kekasihnya, baik manis ataupun pahit sekalipun.

Nabi SAW bersabda dalam Hadist qudsi, bahwa Allah Ta’ala berfirman :

Artinya:
“Barang siapa yang tidak rela dengan keputusan-Ku dan tidak bersabar dengan ujian-Ku, maka ia mencari Tuhan selain Aku.”
(HR. Ibnu Hibban, Thabrani dan Abu Dawud).


Nabi SAW bersabda :

Artinya :
“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Barang siapa yang rela, maka Allah rela padanya, dan barang siapa yang benci, maka Allah benci padanya.,”

Wahai orang-orang yang beriman, anda wajib mengetahui dan berkeyakinan, sesungguhnya Allah SWT adalah zat Allah yang menunjukan dan menyesatkan, yang mencelakakan dan memberikan kebahagian, zat yang dekat dan yang jauh, zat yang memberi dan yang menolak, zat yang merendah dan mengangkat derajad, zat yang memberi manfaat dan mudharat. Jika anda telah tahu dan beriman terhadap semua itu, maka kewajiban anda secara lahir batin adalah tidak menentang sesuatupun dari perbuatan Allah.

Di antara contoh dari perkataan yang menentang itu, misalnya jika anda berkata : ”Mengapa Allah menjadikan begini ? “Karena Allah menjadikan begini ? ”Bukanlah seharusnya Allah menjadikan begini ? ”Atau perkataan anda : “Dosa apakah yang terhadap pada Fulan hingga seperti itu.

Di antara orang yang paling bodoh adalah orang yang menentang dan merebut kekuasaan Allah. Padahal ia mengetahui, bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah Maha Esa dalam penciptaan, urusan, keputusan, dan pengaturan. Ia berbuat atas kehendak-Nya sendiri dan memutuskan atas apa yang Dia kehendaki, Dia tidak di tanya terhadap apa yang diperbuat, sedangkan mereka akan ditanya (di minta pertanggungjawaban).

Bahkan, di antara kewajiban anda adalah mengetikadkan, bahwa seluruh perbuatan Allah terjadi secara tepat, paling afdal, paling baik dan sempurna. Ini adalah garis besar dari yang di maksud ridha terhadap keputusan Allah yang sebenarnya.

Adapun rela terhadap keputusan Allah secara terinci adalah, bahwa permasalahan- permasalahan yang pasti terjadi pada anda terjadi menjadi dua bagian, antara lain :

1.Suatu kebutuhan yang menjadi keniscayaan anda, misalnya kesehatan dan kekayaan. Dalam sisi ini tidak tergambar didalamnya akan keberadaan tanda-tanda tidak rela, kecuali tergantung pada sisi mana, cara pandang anda terhadap zat yang memberikan karunia kepada anda. Dan dalam hal ini, kewajiban anda kapada-Nya, adalah kerelaan anda apa yang diberikan oleh Allah kepada anda, bahwasannya Allah SWT dengan kekuatan-Nya hendak melakukan sesuatu, sesuai dengan kehendak-Nya, atau Allah SWT telah memilihkan kepada anda dengan sesuatu yang lebih baik bagi anda lebih pantas bagi keberadaan anda lebih sempurna.

2.Sesuatu yang tidak anda butuhkan, misalnya musibah, penyakit, kemiskinan. Dalam masalah seperti ini, haram bagi anda jika merasa jemu atau selalu gelisah kerenanya. Terhadap apa yang berkenaan dengan makanan, hendaklah anda menerima apa adanya atau berserah diri, jika tidak mampu, sebaiknya anda bersabar atau dan menjalaninya dengan penuh kerelaan untuk mencari pahala Allah.

Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :
“Beribadahlah kepada Allah dengan ridha, jika tidak mampu, maka bersabarlah terhadap apa yang tidak menyenangkan, kerena dalam hal itu terdapat banyak kebajikan.”

Tidak termasuk ridha sedikipun atas apa yang dirasakan oleh sebagian orang-orang kaya dengan merasa tenang ketika meninggalkan perintah dan menjalankan larangan. Kerena melakukan maksiat dan meninggalkan ketaatan termasuk sesuatu yang di benci Allah SWT lalu bagaimana ia ridha terhadap sesuatu yang tidak di ridhai-Nya.

Allah SWT berfirman :

Artinya :
“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan dia tidak merdhoi kekafiran bagi hambanya ; dan jika kamu bersyukur, niscaya dia melihat bagimu, akan kesyukuranmu iu.”(QS. Az-Zumar : 7)

Keridhaan seperti yang dilakukan oleh orang-orang miskin tersebut hanyalah ketidakberdayaan menguasai nafsunya dengan menyangka, bahwa dirinya mendapatkan keridhaannya dari Tuhannya. Padahal keridhaan yang datang dari Allah dan keridhaan yang datang dari nafsunya, amatlah jauh berbeda, keduanya tidak akan dapat berkumpul dalam suatu tempat.

Alangkah indahnya yang di kata Imam Ghazari r.a. berkaitan dengan masalahnya dengan Abi Fath Ad-Dimasyqi, Imam Ghazari berkata : ”Ridha, adalah secara batin terhadap apa saja yang dikendaki Allah, sedangkan secara lahir menjalankan apa yang ridhaanya. Jika seorang hamba ingin mengetahui seberapa ukuran ridha yang ada padanya, maka kemiskinan, sementara ia mengalami kesulitan yang sangat. Dari situ, ia akan menemukan seberapa jauh kadar keridhaannya atau tidak menemukan keridhaan padanya.”

Kiranya sering anda dengar dari ketersesatan anak-anak zaman ketika ditanyakan pada mereka : ”Mengapa anda meninggalkan taat dan mengerjakan yang haram ? ”Mereka menjawab : ”Semua ini adalah merupakan ridhaa Allah kepada kami Allah telah mentakdirkan begini, kami tidak bisa menghindarinya, bahkan kami adalah hamba-hamba yang dikendalikan.”

Demikian itu adalah paham dari penganut mazhab Jabariyah dengan keberadaan dan kemustahilannya, seakan-akan mereka mengatakan:”tidak ada gunanya kedatangan para Rasul dan diturunkan kitab-kitab.”

Mengherankan, bagaimana ada orang yang mengaku bermain mencari-cari alasan untuk mengalahkan Tuhannya. Hanya kepada Allah alasan yang paling benar di atas semua makluknya. Seharusnya seorang yang bermain tidak berkata seperti perkatakan seperti orang-orang musyik, sebagaimana yang tercantum di dalam AI-Qur’an, berikut :

Artinya :
“Jika Allah, menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun …….”
(QS. Al-An’am : 148)


Atau tidak mendengar sanggahan Allah kepada mereka (orang-orang musyik) atas ucapn tersebut, ketika Allah berfirman kepada Nabi-Nya :

Artinya :
“Katakanlah : apakah kamu mempunyai sebuh pengetahuan sehingga dapat kamu kemukakannya kepada kami. Kami tidak mengikutinya, kecuali prasangkaan belaka dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. Al-An’am : 148)

Ketahuilah, bahwa alasan seperti itu tidak akan dapat meloloskan orang-orang musyrik ketka kembali kehadirat Allah, sekalipun mereka mencari-cari alasan yang dapat membantah dihadapan Allah, bahkan mereka berkata, sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT berikut :

Artinya :
“Wahai Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang tersesat.” (QS. Al-Mu’minun : 106)

Dalam ayat lain disebutkan :” Wahai Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan berbuat baik, sesungguhnya kami orang-orang yang akan yakin.”
(QS. As-Sajadah : 12)

Ketahuilah, sesungguhnya berdoa atau memohon perlindungan, tidak mengotori nilai ridha, bagaimana bisa begitu ? Karena doa yang dilakukan dengan penghayatan terhadap keesaaan Allah, akan dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Dan doa juga dapat berarti juru bicara dari amalan ibadah.

Adapun tanda-tanda dari adanya penghayatan doa itu adalah bisa merasa akan ketidakberdayaan dan kelemahannya, merasa banyak dosa, merasa hina dan merasa fakir. Barang siapa yang mengahayati doa dengan sifat-sifat seperti ini, berati ia telah mari’fat, dan sampai kepada Allah. Iapun telah melatih puncak kedekatan kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :
“Sesungguhnya doa itu merupakan otak ibadah, dan senjata orang-orang mukmin, serta cahaya langit dan bumi, barang siapa yang tidak mau berdoa kepada Allah, maka Allah marah padanya.”

Allah SWT dengan kekuasaan-Nya Yang Agung berfirman, sebagai berikut :

Artinya :
“Allah memiliki Asma-asma yang baik, maka berdoalah kamu kepadanya dengan Asma-asma itu…..”(QS. Al-Mu’min : 60)

Adapun peristiwa yang terjadi pada diri Nabi Ibraim a.s. ketika dilemparkan kedalam api, beliau tidak membaca suatu doa, hal itu tidak lain kerena adanya sebab secara khusus bagi peristiwa tersebut. Jika tidak, tentu dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Bukankan Allah SWT tidak menceritakan tentang seorang Nabi yang lebih banyak dari pada cerita tentang Nabi Ibrahim. Oleh kerena iti, hendaklah anda mengkaji dan memperdalam ilmu-ilmu yang terkandung dalam Al-Qur’an, kerena ia merupakan sumber dari segala ilmu, hendaklah anda memperajarinya secara dalam dan menyeluruh.

Allah SWT berfirman :

Artinya :
“…. dan kami turunkan kepada kamu Al-kitab (Al-Qur’an )untuk memperjelaskan segara sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bag orang-orang yang berserah diri.”(QS. An-Nahl : 89)

Posting Komentar