
Refleksi kemataian kadang mengjungkalkan dia ke Neraka (Na’udzubillaah min dzaalik seperti itu). Dan kejadian itu tepat pada saat kritisnya menjelang kematian. Tuan pernah dengar kisah seorang muslim yang tidak masuk secara kaffah, dengan satu Undang-undang bahwa : ada seumur hidup melakukan kebaikan, tapi menjelang kematian ia menyembah syetan, artinya mati tidak dengan terhormat (disebut Su’ul Khatimah). Dia melakukan kebaikan seumur hidup, namun pada sisi lain ada keistiqamahan melakukan kejahatan, artinya tidak masuk Islam secara kaffah (menyeluruh).
Ini yang dikatakan refleksi kematian terkadang menjungkalkan dia ke neraka.
Pada saat-saat orang diambang kematian, antara sadar dan tidak sadar, calon mayit dihadapkan dengan sejuta peristiwa cobaan. Katakanlah seperti pemain pembalap ; saat-saat mencapai finish, mereka saling memburu mati-matian. Demikian juga saatnya orang akan mati. Di mana satu riwayat yang dipercaya ada yang mengatakan :
(Diketengahkan oleh Abu Hasan Al Pasie yang merujuk dari Imam Ghzali ; Kasy – ful Ulumil Akherat) ; para iblis dan bala tentaranya termasuk jin dan syetan mendatangi calon mayit dengan menyerupai segala bentuk dan cara. Dimana bentuk dan cara itu menyerupai segala bentuk yang dulu di dunia amat disayangi. Mungkin yang dicintai melebihi segalanya dari pihak istri, suami, adik, kakak atau kedua orang tua, Mereka berkata kepada calon mayit ; masuklah engkau ke agama Kristen atau Yahudi. Atau mereka membujuk mati dalam keadaan berfikir harta (melupakan Tuhan) sebab dulunya sangat cinta dengan harta.
Yang jelas iblis datang dan membujuk agar mati jauh dari Islam, dengan suatu alat apa yang dulu di dunia amat dicintai. Sebab dengan cara itu sangat mudah meruntuhkan mereka yang tidak beriman.
Juga ada satu riwayat mengatakan : saat-saat manusia menjelang ajal. Ada dua iblis menyerupai ayah dan ibu calon mayit duduk di sebelah kanan dan kiri kepala. Yang kanan (menyerupai ayah) berkata : “Anakku, ini ayahmu datang yang dulu membiayai kamu dalam segala tanggungan hidup. Ayah bekerja keras untukmu, anakku, maka sekarang ini hanya satu permintaan ayah : matilah kamu dengan masuk agama kristen.”
Kemudian yang kiri (menyerupai ibu) berkata, “Anakku, ini ibumu datang yang telah merawat kamu, menggendong kamu, mengasihi kamu, kamu kencingi, kamu beraki dan kamu telah menyusahkan ibu selama perawatan hidup sampai kini engkau akan tidak ada, maka hanya satu permintaan ibu : masuklah kamu ke dalam agama yahudi.”
Segala daya upaya itu untuk menjerumuskan manusia, dengan cara dan bentuk taktik yang sangat mudah menggoyahkan iman seseorang. Calon mayit ketika itu berwajah muram kebingungan dan hampir-hampir. Seperti diatas hanyalah pelajaran yang baik, sebab ibu atau teman adalah sarana baik untuk menjerumuskan bagi iblis dan sekutu-sekutunya. Tapi bagi calon mayit yang memperoleh Rahmat dari Allah dikarena kabaktian dan pengabdiannya di kala hidup normal, saat-saat itu akan didatangkan Malaikat Jibril, lalu mengusir mereka para iblis dan sekutu-sekutunya,lari terbirit-birit. Kemudian Jibril menjelaskan kepada calon mayit dalam bentuk yang tidak bisa dikuasai oleh orang disekitar calon mayit.
“Tadi itu iblis dan bala tentaranya mencoba menjerumuskan engkau. Dia sebenarnya bukan ayah atau ibu kamu … dan seterusnya.”
Calon mayitpun tersenyum. Peristiwa ini sebelum dia tercabut nyawanya, dimana kebanyakan peristiwa itu diluar kebiasaan orang yang bersangkutan. Ada yang minta minum, minta ini itu, atau bahkan pernah ada yang menghitung …. Satu, dua, tiga, padahal saat itu dia dituntun mengucapkan lafadz Allah … Allah …, Allah. Setelah diselidiki, ternyata waktu hidupnya tidak ada yang dipikir kecuali sekitar kasir, sebab dia pegawai kasir, tidak beribadah atau lainnya kecuali uang.
Kesunnatakan Menuntun Lafadz Ilahiah
Kebanyakan orang menuntun calon mayit dengan lafadz Tauhid atau lainnya, adalah memang disunnatkan. Ada hadits yang menyerutkan demikian :
“Barang siapa yang akhir ucapannya “LAA-ILAAHA IL-LALAAH”. Maka dia masuk surga.”
(HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Hakim dan Imam Ibnu Hibaan)
“Laa-ilaaha il-lallaah” bahwa tiada Tuhan kecuali Allah, dituntunkan lirih dekat telinga calon mayit,dengan hati yang penuh tersambung dengan keadaan mayit. Kalau dia sudah bisa menirukan, maka biarkan dia jangan dituntun. Kalau dia hampir nyawanya lepas, maka tinggal tuntun lafadz “Allah … Allah … Allah …” sebab jangan-jangan baru sampai “Laa-ilaaha …” sudah putus nyawa hilang. Ini artinya sama dengan mengucapkan, “ Tidak ada Tuhan ”
Kemudian disunnatkan lagi membaca Surat Yasin secara perlahan halus, agar calon mayit mati dengan khusnul khatimah.
Ada Sabda Nabi SAW :
“Surat Yasin itu jantungnya AL Qur’an (pusat), barang siapa yang membaca karena Allah dan bertujuan mencari akherat, maka dia akan diampuni. Maka bacakanlah surat Yasin terhadap orang-orang yang mati diantara kalian”.
(HR. Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa-i, Ibnu Hibbaan dan Imam Ahmad)
Calon mayit maupun keluarga atau orang-orang shaleh yang membesutnya, harus punya prasabngka baik terhadap khusnul khatimah-nya mayit.
Maksudnya begini, (khusus calon mayit) : sekali-kali jangan kuatir terhadap dosa- dosa yang dilakukan selama hidup, akan tetapi mengharap rahmat dari Allah sepenuh hati.
Contoh : misalnya sianu tidak usah menghawatirkan dosa itu kelak dihadapan Allah. Namun tetap tersangka baik lantaran mengharap rahmad Allah sekalipun ada dosa-dosa. Kalau sianu kuatir akan pembalasan kelak, maka Allah akan benar-benar malimpahkan balasan itu.
(ini urusan Allah. Akal tidalk bisa mantaktiki dengan alasan “seandainya ” atau dengan argumentasi lain).
Ada hadits Nabi SAW :
Rasullullah SAW mendatangi seorang pemuda yang sekarang mengahdapi maut. Rasullullah bertanya kepada pemuda itu : “keadaan mu sekarang bagaimana ! “pemuda itu menjawab : “saya mengharapkan adanya ridho Allah Ta’ala, dan saya juga khawatir akan dosa-dosa saya. “
Kemudian melanjukan sabdanya : “dalam hatinya orang mukmin bila mana terdapat dua perkara, yakni (1) mengharapkan ridho Allah, dan (2) kuatir akan dosa-dosanya; tentu Allah akan memberika apa-apa yang diharapkan (ridho) yang dilengkapi rasa aman dari apa-apa yang dikhwatirkan “
(HR. Imam Ibnu Majah)
Demikianlah, jadi jangan punya prasangka buruk terhadap Allah. Sebagai mana calon mayit yang baik sangka terhadap Allah mereka akan di limpahi rahmad, diberi pahala, dan Dosa-dosanya diampuni oleh Allah Ta’ala.
Husnudh-dhan (berbaik sangka) artinya dia mengharap adanya kasih sayang dari Allah Ta’ala. Allah maha pemurah dibanding pemurahnya seorang tuan terhadap pembantunya. Misal pembantu pernah memecahkan piring dan terusir kemudian dia datang sambil mintak dikasihani, maka tuan yang berhati murah itu akan tereyuh dan memafkan pembantunaya. tetapi Allah lebih murah dari pada tuan tadi.
Dalam sabda Nabi :
“Sesungguhnya kalian jangan sampai mati kecuali dia bersangka baik kepada Allah Ta’ala”(HR.Imam. Muslim & Jabir ra.)
Dari Atsar Ibnu Abbas. Ra. Menjelaskan :
“Manakala kamu melihat orang menghadapi maut, hiburlah ia agar mau berbuat sangka terhadap Allah akan berjumpanya nanti.”
Hal ini meyerukan dari hadits Qudsi mengenai prasangka seorang hamba terhadap tuannya, dimana Allah keadaannya sesuai dengan bagaimana hambanya bersangka. Kalau hamba bersangka baik maka Allah membalas kebaikan itu.
“Aku ini terletak pada duga-dugaan hamba-Ku, untuk iu mendugalah kepada Ku dengan dugaan yang baik." (haditsb Qudsi)
Artinya : bisa masuk terhadap calon mayat yang menduga Tuhan akan me-rahmatinya. Maka Allah pun menurunkan rahmad itu, ketika ia membuka jalan akhirat berupa kematian. Semisal datangnyua Malaikat mengusir para iblis, ini pun rahmad Allah taala.
Pedihnya mati
4000 tahun lama kematian,dan rasa sakit ketika roh di cabut belum hilangseluruhnya. Sebagaimana yang di alami sam bin nuh yang di bangunkan oleh nabi Isa Al Masih atas permintaan Al Hawariyyun. Betapa tak terhitungkan, dan bagaimana rasanya ! adanya mengeluarkan air dari kepala, itupun harus disayat-sayat, kemudian di remas-remas keras, di beri air (pedih) kemudian di peras-peras lagi.
Mungkinkah seperti demikian rasanya, andai kepala itu manusia ! seorang mukmin yang bersih dari dosa-dosanya (ada saja dosa-dosa yang tidak di anggap) adalah kelak rohnya keluar seperti mencabut seutas rambut dari adonan kue ataupun, mulus bersih dan tak bersuara, halus, nyaris tidak terasa.
Ada sabda nabi SAW :
“Roh orang beriman itu keluar dari jasadnya sebagaimana rambut yang di keluar dari adonan roti.”(AL Hadits)
Sedangkan rasa sakit saratul maut bagi orang yang beriman adalah nikmat kelak diakhirat. Sebab dengan kesakitan itu dengan dosa-dosanya terhapuskan. Tertuang dalam sabda Nabi SAW:
“Maut dapat menghapus dosa-dosa orang muslim.” (HR.Imam Abu Na’im, dari Annas ra)
Sabda Nabi SAW :
“Kematian yang mendadak (misalnya kecelakan langsung mati) adalah kenikmatan bagi orang yang beriman, dan hukumannya bagi orang kafir.”(HR. Imam Tarmizi)
Dimana kesakitan dalam sakaratul maut membuktikan dalam membekasnya dosa-dosa dalam hati, kemudian dosa-dosa itu terhapus ketika sakaratul maut di sakitkan.
Ketahuilah bahwa Allah mengadirkan seseorang menjadi orang yang paling baik-baik, saleh, calon ahli surga, maka di hapus segara dosa-dosa di dunia dan dengan segara cobaan, misal, kematian anakanya, istri, atau ibu, atau dengan sulitnya ia mencari rezeki. Semua ini cara pengahapus dosa-dosa dia.
“Kalau sekiranya masih ada sisa-sisa dosa, maka Aku letakan ras sakit ketika saratul maut, sehingga ia menemui Aku (Allah) sudah dalam keadaan bersih layaknya anak yang baru di lahirkan dari rahim ibunya.” (hadits qudsi)
Atsar Umar bin Khathab,” kalau seorang mukmin (ahli surga) masih ada sedikit dosanya, di mana belum habis dalam perbuatan-perbuatan, maka Allah menjadi sakit seketika saratul maut.”


Posting Komentar