
Bolehkan orang bercita-cita ingin mati ?
Mungkin dia terlalu kerasnya menghadapi cobaan hidup ; masalah ekonomikah, masalah pribadikah, keluarga atau kasus-kasus sosial dan remaja. Sehingga membuat satu putusan ingin mati. Artinya orang yang ingin mati karena didorong satu hasrat putus asa. Otaknya yang sudah tidak normal berpikir, kemudian dibumbuhi oleh syetan dengan nada-nada nikmat, lalu matilah dia dalam kekufuran sebab membunuh diri.
Ini betul-betul dilarang oleh Nabi SAW berdasarkan hadits shaheh :
“Seseorang diantara kamu dilarang keras bercita-cita mati disebabkan adanya kesulitan yang dihadapi.”(HR. Imam Muslim, dari Annas ra)
Boleh bercita-cita mati, tapi ada caranya, asal hanya sebatas cita-cita yang tidak dipraktekkan. Bahkan berdoa ingin matipun tidak boleh, tapi boleh berdoa ingin mati dengan cara-cara doa yang diajarkan oleh agama. Misal doa dibawah ini :
“Ya Allah, hidupkanlah kami selama kehidupan itu memang baik untuk kami. Dan matikanlah kami sekiranya kematian itu memang baik untuk kami.”
Adalah suatu usaha doa yang dinilai keras antara hubungan hamba dan Tuhan. Artinya orang ini siap menghadapi musibah besar yang terbesar, sebab kematian – seperti yang difirmankan – adalah tergolong musibah. Jadi mungkin ia bisa lepas dari musibah, tapi sama dengan masuk ke dalam musibah yang lebih besar, ialah maut !
Lain halnya dengan usaha seseorang yang juga mengharap mati, adalah masuk dalam praktek doa diatas. Misal dia jihat dijalan Allah, kalau mati Al Hamdulillah, sebab bisa mati syahid. Atau pergi haji membawa umur tua renta, kalau mati Al Hamdulillah, sebab bisa mati takkala beribadah Haji. Seperti ini diperbolehkan, disamping sesuai doa diatas yang diajarkan Rasulullah, juga dia pergi ke sana sepenuhnya tidak untuk mati, melainkan ibadah.
Adapun mengenai orang yang berputus asa diatas yang ingin mati, disamping berdoa diatas, juga disunnatkan berbuat baik seperti diibaratkan dalam Kitab Adzkar :
“Mereka disunnatkan menghayati jiwanya dengan membaca beberap ayat Al Qur’an, dengan suatu harapan yang besar. Baca dengan suara yang lembut, atau orang lain disuruh membacakan dan engkau mendengarkan. Juga disunnnatkan membaca kisah-kisah yang dapat menimbulkan harapan besar, cerita orang-orang shaleh dan lain-lain, sebab itu menjadikan kebaikan semakin bertambah. Orang tersebut juga harus menjaga shalat-shalatnya, menjahui barang-barang najis dan lain-lain yang menyangkut masalah tugas-tugas agama. Juga dia harus sabar menghadapi kerasnya perkara yang dihadapi….“
(Fii Adz-kar Hlm. 129 ; Imam Muhyiddin Abu Zakariah : 621 – 676H)
Ingatlah bahwa dunia ini permainan. Sekali-kali jangan hanya karena permainan kemudian putus asa lalu ingin mati saja.


Posting Komentar