RSS Subscription

Subscribe via RSS reader:
Subscribe via Email Address:
 

KERANGKA PROSES FILOSOFIS PIKIRAN DAN HATI

Posted By Taufik Hidayat On 05.22 Under

Membaca makna pandangan hidup

Orang mengerti belajar dari membaca, bukan sekalipun ada sebagian–kata budaya santri – ngalap “barokah.”dengan jalan pengabdian besar terhadap kyai agar ada barokah yang menetes, kemudian tumbuh dari sana timbul pengetian tanpa membaca. Memeng ini pernah didebatkan dan diskusi terbuka oleh para santri;”di dahulu yang mana antara yang membaca dan ngalap barokah!” ada yang mengatakan “membaca” dan ada yang mengatakan lebih dulu “ngalap barokah”dengan jalan abdi terhadap kyai.

Tapi bagaimana juga rahasianya ngalap barokah, masalah membaca tetap nomor satu jadi orang mengerti. Mereka mengerti intisari ngalap barokah juga belasal dari membaca, tahu bahwa dia kyai. Ini pesantren, dan lain-lain juga dari membaca. Sebab membaca itu lelatif, berfikir juga membaca keadaan, pun pula nabi muhammad SAW di beri wahyu pertama di perintah juga membaca………demikian firman-Nya:


“Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama TuhanMu yang telah menciptakan. Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhan Sangat Maha Pemurah.yang mengajarkan manusi deangan pena. Yang mengajarkan kaedah pada manusia apa-apa yang tidak di ketahuinya. Sekali-sekali jangan lah (menyangkal nikmat Allah). Sesungguhnya manusia amat durhaka.”(QS. 96 Al `Alaq : 1- 6)


“Membaca” adalah cara pertama mengerti Pandangan hidup. Membaca dalam tingkat rehdah sampai tingkat pendidikan madrasah atau pesantren, semuanya berasal dari membaca Dan sekarang tuanpun membaca. Tujuan tuan adalah agartuan mengenal misteri hidup sesudah mati, kemudian tuan mengerti, dan setelah mengeti, tuan sudah mengeti apa yang harus dipraktekkan bagi orang yang “Ngerti”.
Inilah yang dinamakan kerangka proses filosofis pikiran dan hati, dimana kerangkan itu baru sampai tangga pertama.

Tahap Mengenal

Lantaran membaca kemudian kenal. Kenal apa itu pandangan hidupnya, atau kenal apa itu Islam, kenal bahwa sumber adalah Al Qur`an, hadits, Ijima` dan Qiyah yang menjadi kerangka tangga sumber Hukum Islam. Tuhan mengenal ada kehidupan sesudah mati nanti, Mengenal surga neraka, dan latar belakang kanapa di surga atau neraka. Juga mengenal bahwa Isalam melarang meminum minuman keras, berzina, menipu, mencuri, Sholat tanpa whudlu` dan lain-lain.

Namun kekuatan pikiran dan hati baru sampai proses mengenal, yang dalam pengenalan itu belum sampai meresap kedalam hati, dimana akan timbul pengertian besar akan hakekat Islam. Orang jawa sering mengkeritik pada anak zaman moderen, semisal katanya, “Anak si anu Itu pandai, sekolahnya tinggi sampai gelar sarjana, Tapi dia tidak mengerti!”

Tahap Mengerti Hakekat Islam

“Ngerti” sebagai mana maksud orang jawa diatas adalah mengerti hakekat orang pandai. Misal mungkin yang di maksud sopan santun, cara bicara, memberi hormat, hubungan antara orang muda dan orang tua, dan lain-lain.
Mengerti disini punya jangkauan orentasi agak dalam, yang dulunya ia hanya mengenal bahwa minum keras itu di larang.Tapi dia belum mengerti kenapa dilarang oleh agama, alasanya, negatifnya apa, atau ada rahasia khusus sehingga sekrang dilarang!.

Dia mengenal bahwa Al Qur`an dan Hadits adalah Sumber utama dalam Islam. Tapi ia belum mengerti apa isi kandungan Al Qur`an atau Hadits. Maka dari pengenalan itu sekarang ia mengeti apa-apa yang dikandung dalam Al Qur`an,mengerti yang di kandung oleh Hadis mengerti maksud intisari ijma` Qiyah. Dan mengerti proses pejalan manusia hidup di dunia, dimatikan. Sampai mengerti prihal hari kebaingkitan.setelah tua meletakakan buku ini tuan mengerti apa yang dimaksud dan intisari dari buku ini. Tuan juga mengerti mengenai agama Islam dan segala ajaran. Tapi hanya saja sebatas mengeti, sementara pikiran dan hati belum bekerja untuk membuktikan sebagai orang mengerti. Termasuk diamalkan atau berjuang, belum sampai kesana prateknya.

Tuan juga mengerti dari dalil-dalil pertama tadi mengenai dunia,”Hanya permainan dan tipu daya .’ Tapi pengetian itu belum semapat mempengarahui pikiran dan hati, lebih-lebih mempengaruhi gerak aktipis hidup. Karna tingkatnya mengenal pandangan hidup Islami belum sampai kesana.

Taraf menghayati hakekat pandangan hidup Islam

Mengerti bahwa setelah ini ada kehidupan langgeng. Dan dunia adalah tipu daya sebagaimana dalil-dalil di muka lalu sampai akhirnya pengetian itu memperngaruhi akal pikiran, sehingga dihayati, dipikiran, dan merenung-renung hidup langeng itu. Artinya pikiran itu sudah berfungsi untuk memikirkan hakekat hidup. Dia sudah memasukan taktik akal untuk menejemahkan pengertian yang selama ini hanya teori. Sebab ketahuilah bahwa dalam kehidupan ini tak cukup mencari penghidupan duniawi. Layaknya hewan, namun memfungsikan akal yang menjadi lebih citra kemanusiaan.

Agama tidak melarang berfikir, jestru agama yamg memberikan pondasi berpikir, mengunakan akal, semisalnya memikirkan alam, kejadian atau memikirkan tubuh itu sendiri. Lantaran pikiran manusia sama dengan menuju hakekat atau barokah kata orang santri. Agama membuka peluang besarterhadap alam pikir agar diisi oleh pemikir-pemikir ala Islam. Sehingga Allah tidak percuma menganuhgrahkan akal terhadap manusia, sehingga Rasulullah tidak percuma meninggalkan pusaka besar, AL-Quran dan hadits, diamana kedua pusaka itu amat jelas hanya hiasan rumah hiyasan keyakinan kalau tanpa di pikir kandungannya. Islam tidak melarangnya, Islam tidak seperti agama kristen yang mempengaruh alam pikir umat manusia, kalau ada orang kristen cerdas penalaran akalnya, berati kristen itu meniru konsep-konsep Islam yang memerdekakan akal.

Karena akan timbul penghayatan hidup. Hidup di dunia tidak seperti dalam tempurung, tidak seperti dalam tembok besar tinggi yang mengetahui sekitar tembok, sementara diluar tembok tidak mengetahui apa-apa, padahal disana banyak ransangan-ransangan kenikmatan akal bila di cerna. Sehingga hidup ini tidak percuma sekalipun dunia dalam pengetian hanya permainan dan sandar gurau tipu daya. Artinya penduduk bumi akan di permainkan oleh dunia yang di setir oleh setan manakala manusianya tidak mau memfungsikan akal. Islam akan bebas dari permainan itu bila mengerti keintian pikiran dari jalan berpikir, yang sudah barang tentu alam pikir itu sudah teradisi oleh agama Islam. Umat Islam tidak akan tergeser sekalipun banyak permainan-permainan yang menyenangkan nafs, sebab mereka sudah menghayati lantaran kecerdasan pikirannya akan semua yang dihamparkan di depan mata dan akal.

Hasil dari penghayatan semua yang di mengerti akan pedoman hidupanya, kemudian dari sana ia memiliki ikatan yang khusus uang dapat menormalkan perjalanan hidup. Semua bermula dari pandangan hidup (Islam) yang sudah di hayati, akhirnya hati sudah menjadi terikat oleh kebernaran (dapat membedakan benar dan salah secara normal) yang membuatnya tidak mudah tergoda oleh nikmatnya permainan- permainan duniawi. Dia sudah punya konsep, dalam kalau bisnis, dia punya prinsip, misal si anu tidak asal kencing-kencing di jalan seperti yang di lakukan oleh teman-temannya yang sedikit yang beragama. Ini kerena si anu sudah punya prinsip, punya ikatan dalam hati bahwa kencing di jalan tidak bernormal yang timbul dari pengetian salah satu inti hadits:

“Bersucilah kalian dari masalah buang air kecil, kerena kebanyakan siksa kubur itu belasar dari masalah itu.” (HR.Iman Ad Daruquth-ni, dari Abu Hurairah ra.)


Habis kencing tidak dibersihkan dengan air, dimungkinkan besar air kencing yang najis memercik-mercik di sekiter tubuh sehingga shalatnya tidak di terima. Si anu tidak memiliki prinsip demikian, kemudian dan di hayati dan di buktikan tidak kencing kecuali ada air untuk bersuci. Maka dalam hatinya ada satu ikatan kebenaran norma, yang bermula dari kebenaran pandangan hidup Islam.

Taraf I’tiqad Dalam hati

Artinya dari penghayatan itu kemudian memiliki I’tiqad. I’tiqad itu ikatan, maksudnya dalam hati manusia sudah memiliki satu ikatan pendirian dan ciri khas Islam, seperti ikatan hati di anu di atas. Yang sudah menjadi kewajiban manusia memiliki pendirian di mana pendirian itu bermula dari proses pedoman hidup Islam.

Segara ikatan dari hasil penghayatan berdasarkan inti syariat Islam tidak sebatas masalah kencing, akan tetapi meyangkut semua segala aspek hidup dunia akhirat. Mereka akan mengerti posisi dunia, dan paham posisi ahkherat dalam setiap aktifis hidup. Semua ini bermula dari pandangan hidup, sehingga ia menjadi orang terpandang di dunia maupun akhirat. Terpandang kerena dia patut di sebut manusia berkerimanusiaan.

Sampai Pada Taraf Meyakini

Yakin artinya tidak di lepaskan. Pertama bermula dari membaca, mengerti, menghayati,timbul satu ikatan, kemudian ia yakin sekarang bahwa pedoman hidup itu betul-betul perlu dan bermamfaat bagi hidup di dunia dan akherat.

Kalau menghayati yang pedoman adalah akal berpikir. Kalau meyakini, berarti mendominasi oleh gerakan hati. Jadi lengkapilah fungsi akal dan hati sebagai anugrah tuhan Allah ta’ala.

Artinya yakin bahwa ikatan-ikatan yang timbul dari proses akal itu sangat mengena. Dengan berbagai pengalaman yang di dasari kayakinan, maka interpretasinya adalah tidak melepas lagi ikatan-ikatan itu, sudah barang tentu yang di maksud ialah ikatan-ikatan terhadap hati, yang di simpul halus oleh benang-benang surgawi Islamih. Katakanlah syariat (undang-undang)agama Islam.

Dengan demikaian hidup ini bermakna. Boleh mencari harta, tapi terapkan prinsip-prinsip pandang hidup beragama. Ikatan dalam agama tidak mengikat sesorang untuk berusaha keras bekerja, justru Islam tidak mencintai orang-orang pengangguran. Umar bin Khatob pernah mengkritik habis prajurit Islam (pemuda) yang kelihatannya tidak penuh semangat seperti obor api keabadian. Justru kerja itu bisa di indentikan ibadah kalau dia mengetahui prinsip-prinsip berpandangan hidup Islam. Jadi ikatan yang di maksud tidak ikatan sesuatu yang membelenggu. Bilamana ada merasa satu umat yang diikat, atau merasa bahwa Islam itu mengikat, maka artinya dia belum memfungsikan hati untuk menyakini. Demikian ini karena “ Kerangka Proses filosofis Pikiran dan Hati,” belum pernah diproses sedemikian rupa.


Akhirnya Sampai Taraf Iman dan Pengabdian


Tuan sudah membaca tentang buku-buku berciri khas Islam, sampai kepada pengenalan tuan terhadap pandangan hidup Islam. Kemudian tuan mengerti, lalu direnugkan dengan penghayatan pikiran, lalu dari pikiran itu tuan punya satu ikatan agung, seperti dalam diri tuan ada suara-suara Islam. Tuan mau memperkosa umpama, tiba-tiba dihalangi oleh satu ikatan besar, sehingga tidak jadi melakukan perbuatan laknat itu.

Ikatan-ikatan itu sudah menyatu mengalir bersama aliran darah,bersemangat dan berdenyut mempengaruhi segala aktifitas seperti denyut nadi tuan sendiri.sehingga hati tuan mulai ada titik terang,ialah sinar iman,dengan satu hasrat besar mengabdi kepada Tuhan Allah.Inilah taraf-nya perikemanusian,mengerti manusia,mengerti kenapa diciptakan,mengerti kenapa di dunia fungsi dan tujuannya,dan tuan mempraktekkan dengan satu pengabdian besar melalui ibadah-ibadah, amal shaleh, melakukan perintah dan menjahui larangan, atau seluruh yang di-syare’atkan oleh Islam dipraktekkan oleh Tuan.Tuan mengerti tujuan dan fungsi hidup di dunia,adalah sebagai jembatan emas untuk menuju kehidupan yang langgeng,dengan praktek satu keseimbangan hidup antara dunia dan akherat.

Tuan-tuan sekalian sudah mampu meng-kotak-kotak hati antara untuk dunia dan dunia untuk akherat. Tuan sudah punya satu prinsip tentang mencintai sesama manusia kerena Allah ta’ala, di mana seluruh aspek tuan lakukan tidak melupakan tidak adanya tuhan Allah sekalipun kelasnya orang masuk WC (berdoa), meludah ke kiri, masuk rumah atau berangkat dan bangun tidur di sertai dengan peningkatan akal dan hati terhadap Allah. Betul-betur seluruh aspek kehidupan sudah tuan warnai dengan Islam. Semua itu namanya” taraf pengabdian tuan terhadap Allah Ta’ala.”

Sampailah keadaan hati tuan di kemas apik oleh Islam, sehingga tuan bisa berfilosofis kemana pun jua akal tetap ada sinar-sinar Islam. Di mana pengabdian tuan dalam hidup tidak di kenal pamrih, kecuali pamrih besar dari zat agung Allah Ta’ala.

Dan yang perlu di catat: pandangan hidup Islam tidak sebatas di cuntohkan dalam buku ini. Tapi seluruh ke Islaman ternyata sudah mempengaruhi alam pikiran tuan dan keadaan dan hati tuan, sehingga asrat dan pengabdian tuan betul-betul di kalahkan oleh jenis-jenis cobaan apapun. Semisalnya cobaan dunia permainan tipu daya tapi bukan artinya kemana yang benar. Demikian yang namanya pengabdian jitu tak terkalahkan oleh perlawanan.

Tingkat Pemilikan dan Perjuangan

Tuan sudah menyelami dan mengenal semua itu hakekat pendang hidup yang tuan pilih.tuan sudah kenal sebelumnya, berati dalam hati ada ras memiliki.” Inilah Milik Saya, Saya Harus Melindunginya,” seperti layaknya tuan melindungi istri dan anak tuan.

Islam adalah milik tuan, katakan begitu. Allah sudah menganugrah terbesar dan tuan punya hasrat memiliki, tuan punya hasrat untuk memegang dan memperjuangkan Islam. Kalau ada isme-isme yang ingin merusak keyakinan tuan, tuan punya hasrat untuk mempertahankan, bila perlu tuan melawannya, kalau sampai mereka sampai menghina Allah dan Utusan-Nya. Tuanpun berjuang dan membela Islam yang disebut “Fii Sabilillaah !” jihad dijalan Allah.
Kalau dalam hati tuan ternyata tidak ada hasrat pemilikan dan perjuangan, ini menunjukkan kerangka proses filosofi hati dan pikiran tuan belum membekas dalam hati dan pikiran. Padahan sudah qodrat manusiawi. “Yang dimiliki diperjuangkan tegak,” tak terganggung oleh siapapun.
Sampai disini sudah memiliki makna hidup di dunia, tinggal bagaimana kita mempraktekkan.

Posting Komentar