
Seperti anak sekolah dia punya cita-cita untuk dirinya. Dia punya cita-cita sebab mengerti hakekat ketika ditempa di sekolahan. Dia punya pandangan hidup sekolah berdasarkan kurikulum dan jurusan yang dipilih. Dari pandangan hidup kurikuler itu muncul satu hasrat cita-cita.
Pun pula manusia secara umum yang punya status mahluk individual dan mahluk sosial. Artinya baru dikatakan mahluk individual sempurana manakala punya hasrat perjuangan khusus terhadap kebaikan dirinya, sebagaimana makna sempurnanya sebagai mahluk sosial manakala ia pandai dalam berhubungan dengan masyarakat (interaksi sosial).
Hasrat perjuangan khusus terhadap kebaikan dirinya ialah dengan mewujudkan cita-cita. Seperti layaknya orang berpandangan hidup (maksud : panggilan hidup Islam) pasti memiliki cita-cita mulia, apalagi setelah pikiran dan hati diproses keras sampai pada pengabdian Hamba terhadap Tuhan realisasi “Manunggaling Kawulo Gusti,” ciri khas Islam. Bukan artinya bersatunya wujud terhadap Allah Ta’ala sebagaimana faham kristen ada Tuhan bapa Tuhan Ibu Tuhan Anak yang bersemayam pada Tuhan Allah. Namun suatu proses perwujudan ibadah, pengabdian, didasari iman terhadap Allah Ta’ala.
Dengan pengabdian itu dalam hati memiliki cita-cita hasrat besar lantaran transaksi agung antara hamba dan Tuhan, dengan cita hidup damai baik dunia akherat. Dunianya yang sekarang sebagai alat untuk mewujudkan cita-cita langgeng di akherat. Hasrat cita-cita semakin kuat manakala proses kemarin sangat kuat dan betul-betul mempengaruhi laju pikiran dan hati.
Cita-cita hanya tinggal angan-angan bila tidak disertai usaha keras. Cita-cita bersifat ukhrawiah, artinya bentuk usaha itu ialah meningkatkan ibadah dan pemahaman-pemahaman lain. Misal pemahaman masalah hidup sesudah mati yang terangkum pada Hari Kebangkitan, juga dapat menguatkan cita-cita semakin terwujud, sebab mengetahui perihilwalannya, jalur-jalurnya, larangannya dan lain-lain, sehingga cita-cita sesuai dengan yang dijanjikan Allah Ta’ala.
Adapun langkah-langkah selanjutnya demi mewujudkan kebaikan dunia dan akherat dengan nilai keseimbangan fifty-fifty, adalah masih banyak jalur-jalur yang ditempuh. Yang penting kekuatan akal dan hati mendukung, maka cita-cita kian dekat. Misal pikiran yang mendukung sesuai perjalan proses kerangka filosofi akal dan hati, dimana akhirnya hati masuk dalam keimanan yang kuat. Misal lagi akal mempelajari dan hati meyakinkan mengenai Hari Kebangkitan : mempelajari memahami periwalan mati, mengingat mati, kerangka-kerangkan agamis misal gambaran qiamat yang berdasarkan dalil-dalil hadits, atau Al Qur’an, mengenai surga neraka. Janji-janji Allah akan semua yang terangkum dalam Hari Kebangkitan.
Pelajaran seperti itu sangat perlu sekali demi kelanjutan proses kekuatan akan dan hati. Kalau diatas diberikan beberapa proses filosofis sampai pada taraf keimanan dan pengabdian seorang hamba terhadap Tuhannya, maka kerangka-kerangka itu disempurnakan lebih dekat dan terwujud. Misal disana ada kerangka proses penghayatan, dari penghayatan muncul I’tiqod dari I’tiqod muncul keyakinan, dan seterusnya dengan hanya dibekali contoh-contoh kecil. Maka bahasan selanjutnya nanti adalah melengkapi, agar proses penghayatan atau keyakinan lebih nyata dan tergambar dalam hati.
Misal “mati”, tuan mengerti bahwa mati hilangnya roh dari jasad. Umpama hanya itu sebatas pengertian tentang mati, maka dariman atau bisa “Menghayati hakekat Mati !” bagaimana bisa tuan punya “I’tiqod” bahwa mati adalah jalan pertama menuju pertanggung jawaban !. Bagaimana tuan bisa yakin akan semua itu kalau tuan tidak mempelajari perihwalan kematian ! Juga perihwalan sekitar hari kebangkitan !.
Maka inilah yang dimaksud masih perlu langkah-langkah lanjutan demi kekuatan akal dan hati, yang nanti dapat membuahkan iman. Semoga !.


Posting Komentar