RSS Subscription

Subscribe via RSS reader:
Subscribe via Email Address:
 

MAWAS DIRI (MURAQABAH)

Posted By Taufik Hidayat On 06.12 Under

Hendaklah anda mawas diri, merasakan akan kehadiran Allah yang terus memantau, baik ketika beraktivitas ataupun ketika anda sedang diam, di setiap gerak dan detak hati serta kehendak anda, pada setiap saat dan sepanjang rentang waktu. Dalam setiap getaran dan hati dan hendak anda, serta dalam situasi dan kondisi apapun anda hendak senantiasa merasakan dekat dengan Allah SWT.

Ketauhilah, sesungguhnya Allah melihat dan mengawasi anda, adapun rahasia yang di sembunyikan, tentu tidak lepas dari pengawasan tuhan, sekilipun sesuatu itu sekecil bijik sawii yang ada dibumidan dilangit.

Sungguh Allah tahu yang di rahasia dan yang paling kecil dan sekalipun anda berkata secara keras ataupun (samar), dia selalu bersama anda di manapun anda berada, dia mengetahui dan menguasai anda secara seluruhnya tanpa ada barang sedikitpun yang terlewatkan. Dialah yang memberi hidayah dan memberikan serta mengawasi.

Jika anda termasuk orang–orang yang baik, hendaklah anda malu kepada Tuhan dengan rasa malu yang sebenarnya, bersungguh-sungguhlah menjauhi larangan-Nya, sekalipun (seandainya) dia tidak melihat anda dan bersungguh–sungguhlah menjalankan perintah–Nya, kepada-Nya maka ketahuilah bahwa dia melihat anda.

Jika anda melihat (merasakan) diri anda bermalas–malasan untuk taat kepada-Nya atau cenderung terhadap mendurhakai-Nya, maka ia ingatkanlah dia (diri) anda, bahwa Allah melihat dan mendengar, serta mengetahui segala yang di rahasia dan yang tanpak pada anda.

Apabila peringatan anda itu belum membuahkan, karena keterbatasan diri anda mengenali keagungan Allah SWT, maka ingatkanlah ia akan adanya dua Malaikat yang mencatat amal yang baik dan buruk. Dan bacakanlah padanya, firman Allah SWT :

Artinya:
“(Yaitu) ketika kedua Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk sebelah kanan dan yang lain duduk sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada didekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir (Roqib dan Atib).”
(QS. Qaaf : 17-18)


Jika peringatan semacam ini belum juga berpengaruh padanya, maka ingatkanlah ia, bahwa kematian sudah dekat, bahkan kematian itu merupakan perkara misterius yang paling dekat dengan dirinya, yang selalu menanti. Takut–takutlah diri anda yang akan datangnya kematian secara mendadak dan tiba–tiba yang merenggut pada selain anda. Apabila telah mereggutnya, kemudian dia dalam keadaan yang tidak di ridhai, maka ia menjadi orang yang merugi tanpa berkesudahan. Jika gertakan yang menakutkan itu belum ada gunanya, maka ingatkanlah ia (diri anda) akan ada pahala besar, yang di janji oleh Allah bagi orang–orang yang taat kepada-Nya, dan ada acaman siksa yang sangat pedih yang diancamkan oleh Allah kepada orang-orang yang durhaka kepada-Nya.

Katakanlah kepada nafsu anda : ”Wahai nafsu, ingatlah bahwa setelah kematian tidak ada lagi kesempatan mencari ridha Allah. Setelah mati, tidak ada lagi tempat, kecuali surga dan neraka. Maka hanyalah ada dua pilihan bagi diri anda hai nafsu ! Jika anda ingin taat kepada Allah, maka anda memperoleh balasan fauz (keberuntungan besar di akhirat), keridhaan abadi hidup dalam surga, dan dapat merasakan nikmat menyaksikan Zat Al-Karim (Allah) Yang Maha Memberi Anugerah. Jika Anda berlaku durhaka kepada-Nya, maka Anda akan mendapatkan balasan siksaan, kesusahan dan murka, serta tertutup kemungkinan untuk dapat merasakan nikmat menyaksikan Zat Allah, namun Anda terbelenggu didalam jurang neraka.”

Sembuhkan diri Anda dengan peringatan-peringatan semacam ini, sebab kerelaanNya untuk taat kepada Allah dan kesukaannya kepada kemaksiatan. Karena kenikmatan semacam ini merupakan obat yang bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit hati.

Selanjutnya, perhatikanlah kelanjutan yang terjadi dihati anda, jika anda rasakan bahwasanya Allah telah menganggap anda benar-benar punya rasa malu, maka hal itu, ditandai dengan keengganan anda menentang Allah, dan anda jadi terdorong untuk bersegera menjalankan kebaktian Kepada-Nya. Ketika anda telah merasakan berat dalam kondisi semacam itu, maka hal itu sudah masuk dalam wilayah hakikat muraqabah.

Perlu Anda ketahui, bahwa merasakan kehadiran Allah begitu dekat dihati (murabaqah), merupakan tingkatan (maqam) yang paling mulia, kedudukan yang paling terhormat juga derajat yang paling tinggi. Hal ini, merupakan tingkatan Ihsan (maqam ihsan), sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Rasulullah SAW :


Artinya :
“Ihsan adalah Anda beribadah kepada Allah, seakan-akan melihat-Nya. Jika anda belum mampu melihatnya, maka sesungguhnya dia melihat Anda.”

Setiap orang beriman, wajib percaya bahwa tidak ada satupun yang ada dilangit dan dibumi tersembunyi dan tidak diketahui oleh Allah. Dia juga wajib tahu, sesungguhnya Allah bersamanya, dimanapun dia berada. Tidak ada barang sedikitpun yang samar-samar bagi Allah dari apa yang ada padanya, baik gerak-gerik ataupun diamnya. Akan tetapi, tanda-tanda bagi kelangsungan kesaksiaan seperti ini, dan buah yang dihasilkannya, adalah seseorang akan merasa akan tidak memiliki kemampuan melaksanakan amal apapun antara dirinya dan Allah. Ia malu, jika Allah melihatnya dengan amal itu sebagian antara orang yang shaleh.

Ini satu kemuliaan, dan apa yang ada dibaliknya lebih mulia dari padanya, hingga seseorang diakhir perkaranya menjadi larut lebur dengan Zat Allah SWT Ia fani, tidak bisa melihat sesuatu, kecuali Zat Allah ia telah lenyap dari sifat normal : alamiah makhluk, lebur dalam menyaksikan hakikat Zat Allah SWT serta erat menyatu dengan alam hakikat Allah (maqam sidqin) Singgasana Raja Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung.

Wahai saudaraku ! hendaklah anda memperbaiki batin hingga ia menjadi lebih baik daripada wujud lahiriah. Hal itu, sebabkan oleh karena batin (hati) merupakan standar yang hakiki, sedangkan lahiriah adalah ukuran bagi makhluk, dan Allah SWT tidak pernah menyebut keduanya (batin dan lahir), kecuali terlebih dahulu menyebut yang berkaitan dengan batin (siri).

Rasulullah SAW pernah berdoa :


Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah batin (hati) ku lebih baik daripada lahiriahku dan jadikan lahiriah yang baik.”

Ketika batin (hati) seseorang telah baik, tentu lahiriahnya akan baik pula. Karena pada dasarnya, lahiriah itu mengikuti hati, cermin bagi batin, baik dan buruknya.

Rasulullah SAW bersabda :


Artinya :
“Di dalam tubuh seseorang terdapat segumpal daging, jika daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, jika daging itu rusak, maka rusak seluruh tubuhnya, ketahuilah, bahwa ia adalah hati.”

Ketahuilah, bahwa orang yang mengaku dirinya mempunyai hati yang bagus, sementara lahiriahnya benar-benar asing, yaitu meninggalkan ketaatan secara nyata, seperti meninggalkan shalat, puasa, zakat dan lain sebagainya, maka ia adalah pendusta. Karena, barang siapa yang memperbaiki lahiriahnya dengan memperelok perilaku sikapnya, menjaga lisan serta mengatur gerak-geriknya, baik ketika duduk berdiri atau berjalan, sementara ia sendiri membiarkan hatinya terpenuhi oleh akhlak busuk dan wataknya tercela, maka ia termasuk orang yang merekayasa penampilan lahiriahnya dan bersikap riya, termasuk orang yang menentang Tuhan.

Wahai saudaraku, takutlah anda akan menutupi sesuatu, jika sekitarnya suatu itu dapat membuat anda malu terhadap orang lain, takut di maki, sebagian orang ma’rifat berkata : ”seorang sufi belum dianggap sufi, hingga sekiranya saja apa yang ada dihatinya ditanpakkan keliling pasar, namun ia sedikitpun tidak dipermalukan oleh apa yang tanpak dari hatinya.

Kalau saja anda belum mampu seperti itu, sebaiknya anda berusaha menjadikan hatinya lebih baik daripada aspek lahiriah : “setidaknya, hendaklah anda menyetarakan antara keduanya (batin dan lahiriah), sehingga tanpak sejajar antara memenuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik di saat sedang sendirian atau di tengah orang banyak, bagi anda sama saja, tidak ada bedanya. Inilah hal pertama yang harus ada dan diletakan oleh seseorang dalam menempuh Titian Khusus, yaitu : “Ma’rifat” kiranya hal itu perlu anda ketahui !. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Posting Komentar