RSS Subscription

Subscribe via RSS reader:
Subscribe via Email Address:
 

PERBAIKAN NIAT

Posted By Taufik Hidayat On 06.14 Under

Mari kita berbenah diri untuk memperbaiki niat dan melakukannya secara tulus dan ikhlas, mengontrol dan merenukan sebelum memulai melakukan perbuatan, kerena niat melupakan dasar utama bagi suatu perbuatan. Sebab, baik buruk suatu amal, sah dan rusaknya adalah tergantung pada niat.

Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang tergantung pada yang diniatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Hendaklah anda tidak mengatakan suatu perkataan dan tidak melakukan suatu perbuatan serta tidak bermaksud tahu suatu perkara apapun, kecuali anda niatkan semua itu semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT Dan mengharap pahala yang telah disediakan oleh Allah SWT Atas perkara, sebagaimana diterangkan dalam Bab Anugerah Pahala Dan Keutamaannya.

Ketahuilah ! Sesungguhnya taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah itu tidak sah, kecuali dengan sesuatu yang telah disyari’atkan oleh-Nya, melalui lisan Rasul-Nya, yaitu berupa amal fardu maupun Sunnah.

Niat yang benar terhadap suatu perkara mubah, memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kedekatan (kepada Allah), sesuai dengan kapasitasnya sebagai wahana menempuh tuntutan dari tujuan-tujuan dimaksud, seperti orang yang niat makan guna memperoleh kekuatan untuk mengerjakan taat kepada Allah dan mempergauli istri sebagai syarat untuk mendapatkan anak yang ahli ibadah kepada Allah.

Sebagai syarat dari konsekwensi niat yang benar adalah melaksanakannya dengan amalan nyata, misalnya orang yang mencari ilmu, harus memperteguh komitmen niatnya dalam menghasilkan ilmuan, mengamalkan dan mengajarkannya. Jika ia tidak melakukan hal itu, sementara ia memiliki kemungkinan untuk merealisasikan itu, maka niat itu tidak benar dan bohong belaka.

Begitu pula, orang yang mencari harta dunia, ia harus memperteguh komitmen niatnya, bahwa ia berusaha mencari harta duniawi agar merasa cukup dan tidak meminta-minta pada orang lain, agar dapat bersedekah pada orang yang membutuhkan dan mampu menyambung tali persaudaraan. Akan tetapi, ketika kemampuan untuk melaksanakan niat tersebut, mungkin dan terbuka baginya, sementara ia melaksanakan sebagaimana tersebut, maka niatnya semula itu sama sekali tidak berdampak apapun, sebagaimana sesuatu yang suci, tidak akan berpegaruh pada sesuatu yang najis.

Barang siapa yang sependapat dengan seseorang yang menggunjing orang Islam, sementara ia beralasan, bahwa tujuannya sependapat dengan penggunjing itu hanyalah sekedar ingin menyenangkannya, maka ia termasuk salah seorang penggunjing.

Demikian juga orang yang diam, tidak mau amar ma’ruf nahi mungkar, sementara ia beralasan, bahwa niat dan tujuan dari diamnya adalah untuk menghindari menyakiti orang lain dan menyinggung perasaannya, maka ia termasuk mitra dalam dosa dengan orang yang melakukan kemungkaran itu.

Apabila niat buruk berkaitan dengan amal yang baik, maka niat yang buruk itu akan merusakkan amal yang baik itu dan menjadikannya sebagai amalan yang kotor. Misalnya, orang yang melakukan amal shaleh, dengan amal itu ia berniat agar memperoleh harta dan pangkat.

Wahai saudaraku ! Berhati-hatilah agar niat anda dalam menjalankan ketaatan semata-mata hanya mengharap keridhaan Allah SWT Niatlah terhadap hal-hal mubah yang anda lakukan agar dapat membantu melakukan ketaatan kepada Allah.

Ketehuilah, bahwasanya dapat juga dipraktekkan mengumpulkan antara satu amal dengan beberapa niat, dan bagi pelakunya akan mendapatkan pahala penuh dari setiap niatnya. Misalnya mengenai ibadah Sunnah, seseorang membaca Al-Qur’an dengan niat munajat kepada Allah. Sementara di sisi lain, juga berniat menggapai ilmu dari Al Qur’an, karena Al-Qur’an merupakan sumber dari segala ilmu, juga berniat agar bermanfaat bagi para pendengar dan penyimak, dan lain sebagainya dari berbagai macam niat baik dalam menjalankan kebaikan (amal shaleh).

Contoh dari amalan mubah, misalnya, ketika makan, maka niat kita makan untuk melaksanakan Firman Allah SWT :

Artinya.:
“Hai orang–orang yang beriman, makanlah di antar rezeki yang baik–baik yang telah kami berikan (rezekikan) kepada kamu…”
(QS. Al-Baqarah : 172
)

Atau anda berniat, agar kuat melakukan ketaatan kepada Allah SWT atau juga berniat, agar menjadi sebab lahir rasa syukur anda kepada Tuhan. Kerena Allah Berfirman :

Artinya:
“Makanlah kamu dari rezeki Tuhanmu, (dan) bersyukurlah kamu kepadaNya ….”
(QS. Saba’ : 15)


Kisahkanlah dengan dua contoh di atas untuk hal yang lainnya, baik dari ibadah Sunnah atau mubah, dan perbanyakkanlah niat yang baik dengan penuh kesungguhan anda.

Niat mengandung dua pengertian, yaitu :

Pertama :
Niat sebagai ungkapan atau istilah dari tujuan yang memotivasi anda menetapkan kemauan, berbuat dan berkata. Niat dengan pengertian seperti ini pada umumnya lebih baik dari pada amalnya, jika niat itu sendiri baik, sebaliknya akan lebih jelek dari pada amalnya, jika niat itu jelek.

Rasulullah SAW bersabda :

Artinya :
“Niat seorang mukmin itu, lebih baik dari pada amalnya,.”
(HR. Baihaqi)


Renungkan bagaimana Rasulullah SAW, mengistimewakan kepada orang yang mukmin dengan peringatan (zikir).

Kedua :
Niat di pandang sebagai istilah bagi tujuan melakukan sesuatu dan komitmen anda untuk melakukannya, niat dengan pengertian seperti ini, lebih baik dari pada amalnya, akan tetapi seseorang dalam melakukan sesuatu yang menjadi komitmennya itu, tidak terlepas dari 3 hal, yaitu :
1. Niat dan melakukan
2. Berketetapan niat, tetapi tidak melakukan dengan sepenuh kemampuannya, hukum kedua sikap ini dijelaskan dalam hadist yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Artinya:
“Sesungguhnya Allah SWT, mencatat segara perbuatan yang baik dan yang buruk.“

Kemudian Beliau menjelaskan dengan sabda :
Artinya :
“Barang siapa berniat baik dan belum melaksanakannya, maka Allah mencatatnya sabagai satu kebaikan. Apabila berniat baik, lalu melaksanakannya, maka Allah mencatat sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali, bahkan sampai kelipatan yang lebih banyak, barang siapa berniat jelek dan tidak melakukannya, maka Allah mencatat satu kebaikan penuh dan barang siapa berniat jelek dan malakukannya, maka Allah mencatat satu kejelekan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


3. Barang siapa yang berketetapan melakukan perkara akan tetapi ia tidak mampu melakukannya, kemudian berkata : ”Apabila aku mampu aku akan melakukannya. ”Maka ia mendapat pahala niat seperti orang yang melakukan, dan baginya pahala sesuai dengan yang ada padanya, Dalil yang menujukan pengertian tersebut adalah sabda Rasulullah SAW :

Artinya:
“Manusia itu ada empat macam, yaitu : seseorang yang di beri oleh Allah harta, ilmu, dia dapat memamfaatkan hartanya menurut ilmunya, kemudian yang berkata, ’Jika saja Allah memberiku seperti yang diberikan padanya, tentu aku akan melakukan seperti yang di lakukan, “Maka kedua–duanya mendapat pahala yang sama. Seseorang yang di berikan oleh Allah harta, akan tetap tidak berilmu. Dia mengunakan hartanya dengan kebodohannya. Kemudian yang lain berkata, “Jika saja Allah memberiku seperti apa yang diberikan kepadanya, maka aku akan melakukan seperti yang dia lakukan, “Maka kedua–duanya mendapat dosa yang sama.”

Posting Komentar