
Hendaklah anda menjaga (menunaikan) shalat lima waktu dengan berjama’ah dan istiqamah dalam mengerjakannya.karena, shalat berjama’ah itu lebih utama dua puluh derajad dari pada shalat sendirian. Sebagaimana yang telah di terangkan dalam Hadist sahih. Oleh kerena itu, jangan sampai anda meninggalkan shalat berjama’ah tanpa ada unsur yang sangat mendesak.
Apabila anda mendatangi tempat shalat jama’ah, dan ternyata shalat jama’ah sudah selesai ditunaikan, atau anda sedang berada di rumah, sementara anda ingin menyelamatkan kehidupan keagamaan anda dengan mengerjakan shalat berjama’ah. Maka sebaiknya anda mencari orang yang dapat bergabung mengerjakan shalat berjama’ah bersama, agar anda memperoleh pahala shalat berjama’ah dan selamat dari ancaman sebagai orang yang meninggalkan shalat secara berjama’ah.
Sebagaimana sabda Nabi SAW :
Artinya:
“Hendaklah kaum-kaum itu benar-benar menghentikan dari meninggalkan shalat berjama’ah, atau saya akan membakar benar-benar rumah-rumah mereka.”
Nabi SAW juga bersabda :
Artinya :
“Barang siapa yang mendengar suara azan, sementara dia dalam keadaan luang dan sehat, namun tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya.”
Ibnu Abbas r.a berkata : ”Sungguh anda telah memperhatikan kepada kami, bahwa tidaklah ada seorang pun yang meninggalkan berjama’ah, melainkan kemunafikannya benar-benar nyata”.
Suatu ketika pernah laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dengan penuh keakraban, sebagaimana ada halnya ada dua orang laki-laki memiliki jalinan persahabatan yang sangat kuat dan akrab, hingga memasuki shaf untuk menunaikan shalat berjama’ah.
Shalat Jum’at
Apabila hal tersebut, semuanya sebagai penegasan larangan akan meninggalkan shalat berjama’ah, maka sebagaimana pandangan anda, mengenai orang yang meningglkan shalat jum’at, padahal itu adalah fardhu ian ?
Rasulullah SAW bersabda :
Artinya :
“Barang siapa yang meninggalkan tiga kali shalat jum’at dengan sengaja, maka Allah SWT mengunci dan menutup hatinya.”
Apabila hal itu terjadi karena alasan bahwa tempat dimana tempat dilaksanakan shalat jama’ah itu, ada yang suka membedakan antara yang kaya dan dengan yang miskin misalnya, sedangkan anda sebenarnya rajin dan suka datang ke situ, maka alasan seperti itu tidak dibenarkan. Hendaklah anda merasa malu kepada Allah SWT Karena mungkin ambisi kedunian anda lebih besar dari pada mencari pahala akhirat yang ada di sisi Allah.
Ketahuilah, bahwa alasan yang benar itu intinya adalah membersihkan dosa. Sedangkan pahala itu, tidak bisa di dapatkan, kecuali dengan amal yang benar. Tetapi terkadang pahala itu akan dapat bagi orang yang mempunyai unzur tidak bisa hadir karena sebab. Seperti unsur sakit perut yang terus menerus, terkepung oleh musuh dan lain sebagainya, atau ada pula yang tidak alasan untuk tidak hadir, akan tetapi ada sebab lain yang meyebabkan tidak bisa hadir, yaitu sebab penderitaan (sakit) parah, yang di derita oleh orang lainnya. Seperti orang yang mempunyai alasan mengobati orang yang sakit parah yang segera memerlukan menanganan dan yang semisalnya. Maka, orang yang mempunyai alasan seperti ini, baiknya pertama atau kedua, jika alasan itu disertai rasa bersedih dan merugi akan ketidak hadirannya dalam shalat berjamaah, maka keduanya tetap mendapat pahala.
Kemudian, orang mukmin yang sempurna itu adalah yang tidak meninggalkan sesuatupun yang tidak dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, sekalipun untuk menegakkannya terdapat sebuah alasan kecuali jika ia tahu, bahwa dengan meninggalkannya akan lebih dicintai oleh Allah daripada menjalankannya. Setidaknya, alasan inilah yang paling tepat. Dengan begitu, Anda telah membawa kesempurnaan sebagai keluarga Allah dengan menjalankan yang dapat mendekatkan diri kepadanya, yaitu berupa perkara (Amanah) yan tidak mampu dipikul oleh gunung –gunung besar yang kukuh dan kuat.
Adapun orang yang lemah imannya, sedikit kadar keyakinannya, dan dangkal kema’rifantannya kepada Allah, maka tidaklah ia menangis menyesal, karena meninggal akan perkara yang difardukan Allah kepadanya, melainkan hanyalah mengugurkan dosa.
Allah SWT berfirman
Artinya :
“Dan bagi masing-masing mereka mendapatkan derajat menurut apa yang mereka kerjakan, dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerajaan mereka, sedang mereka tiada yang dirugikan.”
(QS. Al-Ahqaf : 19)
Anda juga mengemban kewajiban terhadap orang-orang yang berada dalam kekuasaaan daan menjadi tanggung jawab Anda, baik anak, istri ataupun budak (pembantu), untuk menyerukan mereka agar mengerjakan shalat. Apabila ada salah satu diantara mereka ada menolak mengerjakannya, maka tugas anda adalah menasehati dan membimbingnya. Jika tetap saja membandel dan menentang dengan meninggalkan shalat, maka harus bersikap lebih tegas dan keras agar jera. Jika tetap saja menolak dan tidak mau mengerajakan shalat, maka hendaklah anda memutuskan dan menentang nya. Karena orang meninggalkan shalat adalah setan yang menjauhkan dari rahmat Allah, yang menyongsong kutukan dan menjauhkan dari pertolongan Allah. Bahkan setiap Muslim juga harus menetangnya. Bagaimana tidak?
Sementara Rasulullah SAW bersabda :
Artinya :
“Janji setia antara saya dan mereka adalah shalat, barang siapa meninggalkannya, maka dia berlaku musrik.”
Nabi SAW juga bersabda :
Artinya :
“Shalat dalam beragama, seperti orang yang memisahkan kepala dari jasad.”
Hendaklah pada setiap hari jumat anda membebaskan diri segara urusan duniawi, menjadikan hari mulia ini semata-mata untuk urusan akhirat. Pastikan anda tidak menyibukkan diri pada hari itu, kecuali derni untuk kebaikan dan hanya untuk mendekatkn diri kepada Allah SWT Perbaikanlah muraqkabah (permintaan)anda pada hari jumat yang mulia itu untuk menemukan saat (waktu) ijabah. Kerena tidak seorang Muslim pun minta suatu kebaikan atau memohon perlindungan dari segala kejahatan, tepat pada saat ijabah itu, tentu akan di pergunakan dan di kabulkan.
Karena itu, hendak anda mempersiapkan diri segera berangkat pagi-pagi menuju (ke mesjid) untuk menunaikan shalat jumat, walaupun anda memiliki kesepakatan waktu yang cukup untuk mendatanginya hingga matahari tergelincir kebarat (saat pelaksanaan shalat jumat). Ambilah posisi dekat mimbar, perhatikanlah dengan seksama saat khatib berkhotbah. Hindarilah kesibukan berzikir dan berpikir, apalagi berbicara kotor, mengikuti nafsu anda pada saat khotbah sedang berlansung, karena maksud dari kehadirannya anda pada forum litual jum’at adalah untuk mendengarkan petuah dan wasiat, kemudian setelah salam dengan mengabungkan kedua kakimu (seperti duduk iftiros) sebelum berbicara, bacalah surat AL-Fatihah, AL-Khlas, AL-Mu’awidzatain (AL-Falaq dan An-Naas)masing-masing tujuh kali, dan setelah itu, apabila kamu akan pulang selesai shalat, bacalah :
Artinya :
“Mahasuci Allah, Dia Maha Agung dengan segala puji-Nya.”100x
Mengenai keutamaan akan hal tersebut, di jelaskan dalam Hadist Nabi SAW Hanya pada Allah kita meminta pertolongan, dialah yang memberi petunjuk dan pertolongan.


Posting Komentar